SEBUAH HADIAH UNTUK BERDUA
Anda tak akan pernah tahu kebahagiaan yang ditimbulkan oleh kebaikan hati.
Bree Abel
Hari itu hari yang indah untuk berjalan – jalan di Portland. Kami adalah sekelompok konselor yang sedang libur, jauh dari orang – orang yang berkemah,berjalan – jalan untuk santai. Cuacanya bagus untuk piknik, jadi saat makan siang tiba, kami menuju sebuah taman kecil di kota. Karena kami semua ingin makan yang berbeda, kami memutuskan untuk berpisah, membeli makanan yang di inginkan, dan kemudian bertemu kembali di lapangan rumput.
Waktu temanku, Robby, menuju penjual hot dog, aku memutuskan menemaninya. Kami memandang si penjual pembuat hot dog yang enak, persis yang diinginkan Robby. Tapi saat temenku mengeluarkan uang untuk membayar, si penjual mengejutkan kami.
“Tampaknya hot dog ini sudah kurang hangat”, katanya, “jadi tak usah di bayar. Biar geratis aja.”
Kami mengucapkan terima kasih, bergabung dengan teman – teman di taman, dan mulai makan. Tapi saat kami mengobrol dan makan,perhatianku terpecah ke seorang lelaki yang duduk sendirian di dekat situ, memandangi kami. Kelihatan dia udah berhari – hari tak mandi. Gelandangan lagi, pikiranku sama seperti gelandangan lain di kota – kota. Aku tak memperhatikanya lagi.
Kami selesai makan dan memutuskan melanjutkan berjalan – jalan. Tapi saat aku dan Robby hendak membuang sampah, aku mendengar suara yang cukup keras bertanya, “kotak makanan itu masih ada isinya , tidak?”
Rupanya lelaki yang memandangi kami tadi. Aku tak tahu harus berkata apa. “Tidak, semuanya sudah di makan”.
“Oh”, Cuma itu jawabnya, tanpa ada rasa malu dalam suaranya. Terlihat jelas dia sedang lapar, dan tak tahan melihat makanan di buang, dan dia sudah biasa menanyakan pertanyaan itu.
Aku kasihan pada lelaki itu tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Saat itulah Robby berkata, “tunggu di sini, aku pergi sebentar,” lalu pergi. Aku memandang dengan rasa ingin tahu sementara dia menyebrang ke penjual hot dog. Lalu aku menyadari apa yang dilakukanya. Ia membeli sebuah hot dog, menyebrang lagi ketempat sampah, lalu memberikan makanan itu pada si lelaki yang lapar.
Waktu ia kembali lagi bergabung, Robby hanya berkata, ”aku hanya meneruskan kebaikan yang diberikan kepadaku”.
Hari itu aku belajar bagaimana kemurahan hati tidak berhenti pada orang yang kau beri. Dengan memberi, kau mengajar orang lain untuk memberi juga.
Andrea Hensley
Sabtu, 24 November 2007
Minggu, 04 November 2007

”Aku Bagian Cerita”
Aku adalah bagian dari cerita
Yang hancur ditelan kegelapan dunia
Tapi jangan harap semua akan berubah
Bila engkau tak mulai untuk mencoba
Aku sengaja lari bersama kebenaran yang ada
Hanya untuk mempertahankan hidupku yang tersisa
Namun jauh hari aku telah mencoba
Mencoba untuk menghentikan ini semua
Tapi setiap langkah untuk mengawalinya
seakan sia-sia berakhir dengan sia-sia
yang akhirnya aku diadili oleh bangsa
bangsa yang dulu aku bela dengan pengorbanan jiwa raga
Rela korbankan darah hingga nyawa hanya demi bangsa tercinta
Aku berjuang sepenuhnya dalam tugas yang mulia
Akan tetapi tanpa melihat apa yang aku bawa
Aku tetap diadili tanpa menimbang rasa
Aku adalah bagian dari cerita
Yang hancur diangkara murka penguasa
Tapi jangan harap aku akan menyerah apalagi kalah
Bila aku tak menjumpai kebenaran yang sesungguhnya
Dan aku tak akan lari dari “prajurit” yang jalankan tugasnya
Walau harus berakhir dengan cerita yang berdarah
Bertarung tanpa pertimbangkan rasa
Aku adalah bagian dari cerita
Yang hancur tenggelam digurun sahara
Dan yang dikejar habis-habisan, seperti perburuan di hutan rimba
Tanpa didasari hak asasi yang ada
Memicu pertempuran yang korbankan banyak jiwa
Yang akhirnya aku tersimpu dipangkuan Ibu pertiwi tercinta
Ditemani guru yang begitu baiknya
Diapun meneteskan air mata
Seakan ia merasa sangat bersalah
Aku tetap bagian dari cerita
Yang hancur ditelan keangkuhan dunia
Tapi aku bukanlah seorang kesatria
Aku bukanlah siapa-siapa
Aku bukanlah apa-apa
Aku hanya bagian dari cerita
Karena aku itulah adanya
Aku adalah bagian dari cerita
Yang hancur ditelan kegelapan dunia
Tapi jangan harap semua akan berubah
Bila engkau tak mulai untuk mencoba
Aku sengaja lari bersama kebenaran yang ada
Hanya untuk mempertahankan hidupku yang tersisa
Namun jauh hari aku telah mencoba
Mencoba untuk menghentikan ini semua
Tapi setiap langkah untuk mengawalinya
seakan sia-sia berakhir dengan sia-sia
yang akhirnya aku diadili oleh bangsa
bangsa yang dulu aku bela dengan pengorbanan jiwa raga
Rela korbankan darah hingga nyawa hanya demi bangsa tercinta
Aku berjuang sepenuhnya dalam tugas yang mulia
Akan tetapi tanpa melihat apa yang aku bawa
Aku tetap diadili tanpa menimbang rasa
Aku adalah bagian dari cerita
Yang hancur diangkara murka penguasa
Tapi jangan harap aku akan menyerah apalagi kalah
Bila aku tak menjumpai kebenaran yang sesungguhnya
Dan aku tak akan lari dari “prajurit” yang jalankan tugasnya
Walau harus berakhir dengan cerita yang berdarah
Bertarung tanpa pertimbangkan rasa
Aku adalah bagian dari cerita
Yang hancur tenggelam digurun sahara
Dan yang dikejar habis-habisan, seperti perburuan di hutan rimba
Tanpa didasari hak asasi yang ada
Memicu pertempuran yang korbankan banyak jiwa
Yang akhirnya aku tersimpu dipangkuan Ibu pertiwi tercinta
Ditemani guru yang begitu baiknya
Diapun meneteskan air mata
Seakan ia merasa sangat bersalah
Aku tetap bagian dari cerita
Yang hancur ditelan keangkuhan dunia
Tapi aku bukanlah seorang kesatria
Aku bukanlah siapa-siapa
Aku bukanlah apa-apa
Aku hanya bagian dari cerita
Karena aku itulah adanya
SEBATAS SAHABAT
”Sebatas Sahabat”
Jangan pernah bosan dengan keegoanku
Karena aku yang sering usik mimpi indahmu
Karena aku yang sering ganggu lelap tidurmu
Aku mulai bingung sendiri karena kamu
Dan akupun sering teringat kamu
Terutama saat-saat aku coba panting tangismu
Dan konyolnya lagi aku
Sekarang aku baru kepikiran untuk dapatin hati kamu
Tapi semua itu hanyalah harapan hampa bagiku
Maaf terucap dari dasar lubuk hatiku
Karenha terlalu berani ucapkan semua ini padamu
Abis aku terlalu bodoh untuk rangkai kata saat bicara dengan mu
Mungkin aku juga terlalu bodoh buat ungkuapin semua ini padamu
Tapi aku harus mesti gimana lagi, biarlah begitu…….
Semoga Yang Kuasa tunaikan hajat dihatiku
Untuk memeluk bintang dipangkuan ku
Akan tetapi yang terbaik itu,
Yang goreskan luka yang dalam dihatiku
Hingga terasa perih, mencabik-cabik tiap celah di jiwaku
Dan sekarang aku hanya bisa berharap selalu
Agar hilanglah semua rasa itu
Hingga mengertikan aku
Akan sesuatu yang terbaik untuk ku
Bahwa aku,
Bukanlah yang tebaik untuk mu
Karena kamu hanya sebatas sahabat bagiku
Gak akan dan gak bakal lebih dari itu
Sebab kamulah sahabat yang pantas di hatiku
Iya…..kan, sahabat-Q ini akan selalu begitu
Jangan pernah bosan dengan keegoanku
Karena aku yang sering usik mimpi indahmu
Karena aku yang sering ganggu lelap tidurmu
Aku mulai bingung sendiri karena kamu
Dan akupun sering teringat kamu
Terutama saat-saat aku coba panting tangismu
Dan konyolnya lagi aku
Sekarang aku baru kepikiran untuk dapatin hati kamu
Tapi semua itu hanyalah harapan hampa bagiku
Maaf terucap dari dasar lubuk hatiku
Karenha terlalu berani ucapkan semua ini padamu
Abis aku terlalu bodoh untuk rangkai kata saat bicara dengan mu
Mungkin aku juga terlalu bodoh buat ungkuapin semua ini padamu
Tapi aku harus mesti gimana lagi, biarlah begitu…….
Semoga Yang Kuasa tunaikan hajat dihatiku
Untuk memeluk bintang dipangkuan ku
Akan tetapi yang terbaik itu,
Yang goreskan luka yang dalam dihatiku
Hingga terasa perih, mencabik-cabik tiap celah di jiwaku
Dan sekarang aku hanya bisa berharap selalu
Agar hilanglah semua rasa itu
Hingga mengertikan aku
Akan sesuatu yang terbaik untuk ku
Bahwa aku,
Bukanlah yang tebaik untuk mu
Karena kamu hanya sebatas sahabat bagiku
Gak akan dan gak bakal lebih dari itu
Sebab kamulah sahabat yang pantas di hatiku
Iya…..kan, sahabat-Q ini akan selalu begitu
Langganan:
Komentar (Atom)

